Jumat, 13 Juli 2012

singlespore cth pada fusarium


Penyediaan sumber inokulum
F. oxysporum  Tipe Liar
            Biakan Fusarium tipe liar diperoleh dengan menumbuhkan jaringan batang tanaman yang terserang gejala F. oxysporum di lapangan pada media PDA dan dilakukan pengamatan setiap hari. Jamur yang diduga Fusarium yang tumbuh diisolasi pada media PDA yang baru hingga didapat biakan murni. Fusarium dapat dilihat dengan pengamatan morfologi jamur, yaitu dengan melihat warna biakan. Kemudian dilakukan pengamatan mikroskopis untuk memastikan jamur yang tumbuh adalah Fusarium. Setelah itu dibuat biakan murni Fusarium spora tunggal.
Spora tunggal diperoleh dengan melakukan pengencerkan spora jamur sampai 10-4 dengan menggunakan tabung reaksi. Dari pengenceran 10-3 dan 10-4 tersebut masing-masing ditumbuhkan pada media WA sebanyak 1 ml dan dilakukan platting di seluruh permukaan media. Setelah 20-24 jam dari waktu platting pada media WA, dilakukan pengamatan perkecambahan spora dengan menggunakan mikroskop compound, dan dilakukan penandaan bagian yang telah berkecambah. Penanaman kecambah spora tunggal dilakukan di LAF (laminar air flow)  pada media PDA, yaitu dengan pencongkelan kecambah spora yang paling jauh dari kecambah yang lain. Setelah spora tunggal tumbuh, maka dilakukan perbanyakan kembali pada media PDA yang baru untuk memperoleh biakan murni isolat spora tunggal Fusarium. Biakan murni dari hasil perbanyakan spora tunggal akan menjadi sumber inokulum yang digunakan pada penelitian ini.
F. oxsysporum f.sp. passiflora Tipe Mutasian
            Biakan F. oxsysporum pada tanaman markisa diperoleh dari akar markisa yang terserang Fusarium. Bagian tanaman dibiakkan pada media PDA hingga diperoleh biakan murni. Untuk kegiatan penelitian sumber inokulum yang digunakan adalah hasil perbanyakan spora tunggal. Metode perolehan spora tunggal F. oxysporum f.sp. passiflora menggunakan metode yang sama dengan metode yang dilakukan pada F. oxysporum tipe liar.
Dalam memperoleh tipe mutasi, biakan awal F. oxysporum f.sp. passiflora harus diencerkan terlebih dahulu sampai kerapatan konidia yang diperoleh 107 konidia/ml. Dalam keadaan steril, 1 ml suspensi konidia jamur F. oxysporum f.sp. passiflora tersebut disebar pada permukaan cawan petri berisi PDA. Kemudian cawan petri tersebut diletakkan 5 cm di bawah lampu UV dengan panjang gelombang 254 nm, dan dilakukan pemaparan konidia. Lama pemaparan yang dilakukan adalah 1, 3, 6, 9, 12 dan 15 menit (Freeman et al., 2002).


ini adalah beberapa contoh spora Fusarium yang telah tunggal, dan berkecambah pada media Water Agar (WA). ini diperoleh dengan pembesaran 40x10. gambar di foto sendiri setelah melakukan sebar pada WA lebih kurang waktunya 20 jam.




dalam menghitung kerapatan konidia dari spora, digunakan alat yang dinamakan haemocytometer. sebenarnya alat ini adalah alat kedokteran untuk mengukur darah, tapi untuk bidang pertanian masih dapat digunakan untuk menghitung kerapatan sel bakteri maupun spora.
ini dia gambar alat tersebut


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar